Siapa Itu Al-Ghuroba?

newsinpo.com – Tribuners, istilah Ghuroba pada dasarnya merujuk pada “manusia luar biasa” atau “seseorang yang dilindungi”.

Dalam perspektif Islam, istilah ghuroba menggambarkan seseorang yang tetap setia kepada ajaran Islam asli serta menjalani kehidupannya sesuai dengan nilai-nilai agama ini, bahkan ketika mereka merasa kesepian dalam lingkungan sosial yang bisa jadi kurang memahami atau enggan mengikutinya.

Seperti yang disebutkan dalam hadits berikut ini:

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

Agama Islam dimulai dengan keadaan terasing dan akan kembali normal seperti dalam kondisi terpinggirkan. Terpujilah mereka yang merasa bernyanyi.” Dia menjawab, “Siapakah orang-orang tersebut ya Rasulullah?” Beliau berkata, “(Mereka adalah) orang-orang yang memperbaiki diri ketika masyarakat sedang bermaksyat.” Dan versi lainnya menyebut, pertanyaan diajak tentang siapa gerangan orang-orang itu? Jawabannya, “Orang-orang yang menghidupkan kembali sunnahku setelah manusia meninggalkannya.

Artinya: Menurut keterangan Abu Ghurairoh radhiAllahu anhu, beliau menerangkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam sebagai berikut:

“Islam datang di tengah situasi ketika ia terlihat asing dan suatu saat nanti juga akan kembali menjadi aneh seperti awal kemunculannya. Oleh karena itu, bahagialah mereka yang merasa ‘asing’.” Pernyataan tersebut bertanya: Apakah ini termasuk ke dalam kelompok al-ghuroba wahai Rasulullah? Ia menjawab: ((Itulah orang-orang yang melakukan pembetulan saat umat manusia sudah hancur)). Dalam versi lain disebutkan bahwa dia dimintai pendapat tentang al-ghuroba; lalu baginda berkata: ((Orang-orang yang hidupkan sunnahku sewaktu kaum telah matikan sunnat-Nya)) (HR Muslim).

Maka, apakah mata pelajaran yang termasuk dalam hadits tersebut?

1. Suatu hari nanti menjalankan perintah akan jadi pertunjukan. Ada kalanya mentaat pada Allah ‘Azza wa Jalla bakal dilihat aneh oleh orang lain. Waktunya bisa terjadi di mana sungguh-sungguh penuhi kewajiban agama malahan dikira halangan yang berlebihan. Keteguhan yang dianut pada Islam mungkin saja disebut radikalisme atau ketidakkuyaan. Dalam pandangan dunia, mereka tampak asing, dan juga menolak manusia, namun sesungguhnya mereka termasuk golongan manusia yang baik…

Abdullah bin Amr bin Al-‘As pernah berkata: Suatu hari Rasulullah SAW bersabda di hadapannya: Berbahagialah orang asing. Lalu ditanyakan: Siapa yang dimaksud dengan orang asing ya Rasulallah? Jawabnya: Mereka adalah orang-orang saleh dalam kalangan orang-orang fasik banyak. Orang-orang yang melintasi mereka lebih besar daripada yang mentaati mereka. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albani.

Arti hadits ini berasal dari Abdullah bin Amr bin Al-As: Suatu hari kami menyertai Nabi Muhammad SAW, lalu beliau bersabda, “Berbahagialah orang yang terasing.” Para sahabat bertanya, “Siapakah orang yang terasing?” Maka dia merespons, “Orang-orang saleh di antara kaum fasik. Jumlah mereka yang melampaui batas melebihi jumlah mereka yang menaati agama.” Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinilai shohih oleh Al-Bani.

2. Ketika waktunya sudah tiba, orang yang sungguh-sungguh menjalankan agama malah dianggap aneh. Perbuatan baik mereka terlihat tidak biasa. Mereka melakukan ibadah dan kebaikan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihim wasalam, namun masyarakat membantahnya. Sebenarnya para individu tersebut adalah orang-orang saleh yang hidup dalam masa ketika kemerosotan merajalela di kalangan umat.

3. Periode dimana pedoman yang jelas dari nash (Al-Quran & Hadits) tidak lagi dipedulikan. Nash digunakan bukan sebagai dasar hukum melainkan hanya sekedar pembelaan. Ini adalah saat di mana sebagian besar masyarakat melakukan amalan berdasarkan kata-kata para penutur yang fasih, meskipun hal tersebut bertentangan dengan nash. Di zaman ini pula memegang erat sunnah malah dianggap seperti meninggalkannya. Orang-orang semacam itu dicaci dan disingkirkan. Kebenarannya mirip abu panas.

Zaman akan tiba di mana orang yang sabar dalam menjaga agamanya seperti orang yang memegang bara api.

Artinya: “Nanti akan ada waktu ketika orang yang sabar dalam menjalankan agama mereka di antara umat ini akan merasakannya seolah-olah menyebarkan api yang terbakar.” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi).

4. Mereka yang teguh dalam menjalankan keyakinannya adalah orang-orang yang bahagia. Teruslah bertahan pada jalur sunnah meskipun kebiasaan buruk telah menyebar luas.

Keistimewaan Al-Ghuroba

Topik hadits yang berhubungan dengan Al-Quran

1. Orang yang beruntung:

Mereka yang beriman dan bekerja dengan baik, bahagialah bagi mereka dan indahlah tempat kembalinya.

Pesan ini mengatakan: Barangsiapa yang percaya dan melakukan perbuatan baik, maka kekayaan menanti mereka serta destinasi akhir yang menyenangkan. [Al-Qur’an Surah Ar-Rad Ayat 29]

2. Tuhan Yang Maha Esa pasti selalu menjaga hamba-Nya yang saleh.

Sesungguhnya Waliku Allah yang menurunkan kitab tersebut dan Dia lah Yang memberikan perlindungan kepada orang-orang saleh.

Artinya: Sebenarnya penjagaku adalah Dzat yang mengeluarkan Al Kitab (Al-Quran), dan Dia-lah yang memberikan perlindungan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. [Surat Al-Araf : 196]. (*)


Perhatikan kabar terkini dari update newsinpo.com lainnya di:
Google News